Selasa, 23 Juli 2013

Konsep Ekonomi Kerakyatan tidak Lagi Terdengar

Konsep ekonomi kerakyatan yang digagas Prof Mubyarto sekarang ini sudah tidak terdengar lagi. Kondisi itu diperparah dengan sistem ekonomi yang dijalankan Indonesia yang lebih mengedepankan pertumbuhan daripada pemerataan.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dr Bayu Krisnamurthi pada Sarasehan Meneruskan Jejak Pemikiran Mubyarto dalam Mewujudkan Demokrasi Ekonomi di Indonesia yang digelar oleh Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan Yayasan Mubyarto di Fakultas ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Kamis (30/5).

Lebih lanjut Bayu Krisnamurthi menyebutkan bahwa sangat penting untuk meneruskan kembali pemikiran Mubyarto dalam mewujudkan demokrasi ekonomi Indonesia ditengah carut-marut kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

Ia mengungkapkan pemikiran Mubyarto tentang ekonomi kerakyatan dapat meminimalisir terjadinya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial di masyarakat dan mewujudkan kemerataan sosial.

“Untuk itu penting membawa berbagai pemikiran mengenai konsep ekonomi kerakyatan sampai ke pemerintah. Jangan hanya berhenti pada tataran
diskusi, namun harus sampai ke tahap implementasi," ujarnya.

Dikatakan ,perekonomian Indonesia saat ini justru tidak melibatkan sebagian besar masyarakat, tetapi hanya sebagian kecil masyarakat. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan konsep ekonomi kerakyatan yang digagas Mubyarto.

Hal senada disampaikan Rektor UII, Prof Dr Edy Suandi Hamid MSc. Ia menyebutkan konsep ekonomi kerakyatan saat ini tidak terimplementasikan dengan baik. Pasalnya, kegiatan ekonomi yang berjalan saat ini tidak melibatkan sebagian besar masyarakat, mulai dari proses distribusi hingga konsumsi. Yang terjadi justru hanya melibatkan sebagian kecil lapisan masyarkat .

“Kenyataannya pertumbuhan ekonomi kita saat ini hanya ditopang segelintir orang. Kalau hal ini terus berlanjut, substansi ekonomi kerakyatan bisa hilang,” katanya.

Edy juga menyampaikan bahwa terminologi ekonomi kerakyatan saat ini hanya dijadikan sebagai jargon jualan politik. Konsep ekonomi kerakyatan hanya muncul ketika masa kampanye politik dimulai dan terlupakan ketika telah terpilih.

“Dalam dunia politik konsep ekonomi kerakyataan hanya sebagai jargon saja, tidak implementatif,” terangnya.

sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/30/2/158044/Konsep-Ekonomi-Kerakyatan-tidak-Lagi-Terdengar

Inflasi Meningkat Ancam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di bulan Maret tahun ini telah mencapai 0.63 persen. Inflasi ini tercatat sebagai tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Penyebab dari inflasi ini adalah naiknya harga komoditas pangan di pasaran, terutama cabai dan gula.
Menurut pengamat ekonomi dari Centre of Economics and Public Policy Studies, Universitas Gadjah Mada, Dr Tony Prasetyono, adanya kesalahan dalam tata niaga komoditas ini telah menyebabkan naiknya harga-harga komoditas pangan.
"Ini adalah kenaikan harga hortikultura yang bisa menyebabkan inflasi kita saat bisa mencapai 5.9 persen. Yang perlu diperbaiki adalah tata niaganya," jelas Tony Prasetyono."
Tony menganjurkan agar pemerintah segera melakukan operasi pasar agar dapat menghindari permainan harga di tingkat pasaran.
Dampak terburuk dari inflasi yang terus meningkat adalah lemahnya daya beli masyarakat, sehingga juga mempengaruhi aliran kredit dan menghambat investasi.
"Sektor kredit dan perbankan akan mengalami perlambatan. Ini juga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara makro."
Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi ini mencapai 6,8 persen, sementara Bank Indonesia di tingkat 6,5 persen.
Tetapi, Tony lebih menyoroti bahwa kenaikan inflasi ini telah "menghilangkan kesempatan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi."
Padahal menurutnya, kenaikan harga BBM diperlukan karena sekarang sudah sangat membebani anggaran belanja negara.
"Tahun ini menurut saya subsidi akan naik menjadi Rp 320 triliun.
JIka kenaikan BBM dilakukan pada tahun sebelumnya, saat persentase inflasi masih rendah, maka nilai inflasi masih dibawah 5,5 persen.
"Kalau dilakukan sekarang saat inflasi sudah mencapai 5,9%,  maka jika seandainya ada kenaikan BBM, inflasi kita akan mencapai 6,9%. Ini adalah angka yang dapat membebani pertumbuhan ekonomi Indonesia."

Tantangan bagi Menteri Keuangan baru.

Menurut Tony, ada tiga tugas utama yang menjadi beban Menteri Keuangan yang baru mendatang.
"Pertama adalah absorbsi APBN, karena penyerapan APBN ini sangat lemah. Angkanya hanya 87 persen, artinya ada 13 persen yang tidak bisa dikeluarkan."
"Kedua, berkaitan dengan beban subsidi energi, seperti BBM dan yang terakhir adalah masih rendahnya penerimaan pajak. Sehingga harus mampu menaikkan penerimaan pajak ini."

sumber : http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-04-04/inflasi-meningkat-ancam-pertumbuhan-ekonomi-indonesia/1111304

Tujuh Kesalahan Pengelolaan Ekonomi RI

Ekonom Faisal Basri menilai ada sejumlah kesalahan yang dilakukan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam mengarahkan perekonomian Indonesia.
Menurut dia, Indonesia saat ini menghadapi tantangan berupa serbuan produk asing. "Negara kita saat ini menjadi santapan produksi asing. Seharusnya pemerintah bisa membalikkan itu dari negara konsumen menjadi negara produsen. Ini memang kesalahan pemerintahan saat ini," kata Faisal saat diskusi bertajuk "Kebangkitan Ekonomi untuk Rakyat Indonesia" di Dharmawangsa Square Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Faisal menilai selama pemerintahan Presiden SBY-Boediono ini, posisi Indonesia terus menurun, khususnya dari sisi perekonomiannya. Faisal menganggap ada tujuh hal yang membuktikan perekonomian Indonesia saat ini terus menurun. Pertama, impor Indonesia lebih besar dibanding ekspornya. Kedua, neraca perdagangan terus mengalami defisit, bahkan hal ini disebabkan dari produk makanan.
Ketiga, soal energi juga merosot, terutama impor minyak yang lebih besar, dibanding ekspornya. Hal ini pula yang menyebabkan neraca pembayaran Indonesia juga defisit. Keempat, daya saing sumber daya manusia kita menurun. Menurut laporan Institute for Management Development (IMD), Kamis (30/5/2013), Indonesia berada di posisi 39 dalam daftar World Competitiveness Rankings 2013.
Tahun lalu, peringkat Indonesia berada di urutan ke-42. Meskipun tahun ini naik, peringkat Indonesia masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya. Filipina, misalnya, tepat di atas Indonesia di urutan ke-38. Sementara posisi ketiga negara jiran lainnya sangat jauh, seperti Singapura yang berada di peringkat ke-5, Malaysia 15, dan Thailand 27. "Kalau sudah rapornya merah begini, seharusnya Presiden tidak naik kelas," ujarnya.
Kelima, sumber daya alam kita dijual secara mentah dan tidak ada nilai tambah. Ternyata meski sumber daya alam kita dijual, seperti kakao, kopi, teh, kayu hingga batubara secara mentah, hal tersebut juga tidak menutupi defisit perdagangan negara.
"Tahun lalu saja kita sudah defisit 1,7 miliar dollar AS. Meski sumber daya alam kita dijual segitu banyaknya, masih belum cukup untuk bisa surplus," tambahnya. Keenam, kemudahan dalam berbisnis kita susah karena birokrasi. Indonesia memiliki indeks kemudahan berbisnis di nomor 129 pada tahun 2012, menurun dibandingkan pencapaian pada 2011 yang masih di level ke-126. Sementara Singapura (peringkat 1), Hongkong (2), Thailand (17), Malaysia (18), dan Taiwan (25).
Ketujuh, indeks korupsi besar. Bahkan sejak 1995, indeks korupsi Indonesia terus terpuruk. "Kita di urutan ke-118 pada 2012, hanya lebih baik dari Pakistan (139) dan Banglades (144)," tambahnya.

sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/05/30/18454926/Faisal.Basri.Tujuh.Kesalahan.Pengelolaan.Ekonomi.RI

Perekonomian Indonesia Urutan Ketiga Kawasan Asia Pasifik

Pertumbuhan perekonomian Indonesia saat ini menempati urutan ketiga di kawasan Asia Pasifik setelah China dan India.
Menurut Deputi Komisionet Otoritas Jasa Keuangan Drs Anis Baridwan MBA, penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lepas dari besarnya aset industri perbankan yang mendominasi seluruh total aset industri keuangan.
Bahkan dari total aset industri keuangan, sebanyak 82,1 % atau Rp 3.653 triliun merupakan aset industri perbankan. Sedangkan aset industri sekuritas mencapai Rp 51 triliun, industri multifinance Rp 293 triliun, aset industri asuransi Rp 444 triliun.
Meskipun perkembangannya sangat baik dan memiliki daya tahan terhadap krisis global, namun menurutnya, sektor keuangan sangat riskan terhadap pengaruh gejolak industri jasa keuangan seperti peningkatan kompleksitas produk keuangan dan kepemilikan konglomerasi lintas sektor.
''OJK sengaja dibentuk untuk menata kembali fungsi pengaturan dan pengawasan jasa keuangan dalam hal tata kelola, manajemen risiko, pengawasan dan pengendalian kualitas,'' katanya saat menjadi pembicara dalam seminar Gadjah Mada Accounting Days 2013 ''Improving Economy Through Sustainable Development and Responsible Governance'', di auditoium MM UGM.
Komisioner OJK yang membidani bidang audit internal, manajemen risiko dan pengendalian kualitas itu menambahkan, sistem pengaturan dan pengawasan sektor keuangan selama ini masih dijalankan terpisah dan belum terintegrasi sehingga OJK ditugaskan melakukan pengawasan sektor keuangan secara terpadu, independen dan akuntabel.
''Integrasi sektor jasa kuangan menjadi tantangan bagi OJK untuk melakukan pengaturan dan pengawasan,'' imbuhnya.
Dalam acara diskusi seminar yang dipandu praktisi dan dosen ilmu komunikasi UI Dr Effendi Ghazali itu menghadirkan Anggota Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) Dr Khomsiyah MM AK CA, dosen FE Universitas Trisakti itu mengatakan tata kelola perusahaan yang baik sangat diperlukan dalam mengantisipasi perkembangan pasar modal, korporasi dan kompetisi lingkungan bisnis.
Pasalnya prinsip Good Corporate Governance menjadikan perusahaan mampu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness. Dalam roadmap penerapan GCG, katanya, dibutuhkan ketentuan dan kesepakatan tata kelola oleh masing-masing perusahaan yang menekankan pada etika dan tanggungjawab sebagai anggota masyarakat.
''Operasi bisnis yang baik itu harus bisa menjadi anggota masyarakat yang beretika dan bertanggungjawab,'' tambahnya.

sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/05/10/156326/Perekonomian-Indonesia-Urutan-Ketiga-Kawasan-Asia-Pasifik

Ekonomi RI Kalahkan Ekonomi Belanda?

Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan bahwa tingkat ekonomi Indonesia sudah bisa mengalahkan ekonomi Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama ratusan tahun.

"Kita bisa mengalahkan Belanda sejak 2011 karena produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat itu sudah 800 miliar dolar AS lebih, sedangkan PDB Belanda hanya 700 miliar dolar AS lebih," katanya di Surabaya, Sabtu.

Ia mengemukakan hal itu dalam dialog "Public Figure on Talk" bertajuk "Optimisme Pemuda Menuju Indonesia Bersinar" yang digelar BEM ITS dan dihadiri lebih dari 1.600 mahasiswa serta perwakilan mahasiswa dari ITB, UGM, Unair, dan sebagainya.

Dalam acara yang dibuka Pembantu Rektor I ITS Prof. Dr.Ing. Herman Sasongko itu, mantan Dirut PT PLN itu menyatakan prestasi itu sangat bersejarah meski tidak dirayakan seperti di Cina.

"Indonesia yang dijajah ternyata bisa balas dendam secara luar biasa, bahkan tahun depan kapitalisasi pasar modal Indonesia sudah bisa mengalahkan Singapura. Dua tahun lagi, kita bisa mengalahkan ekonomi Spanyol," katanya.

Apalagi, pertumbuhan ekonomi nasional yang terus positif di atas 6 persen per tahun bukan hal yang mustahil akan dapat menyejajarkan Indonesia dengan ekonomi negara-negara maju dalam beberapa tahun ke depan.

"Cina itu berpenduduk besar dan miskin, tetapi mereka sanggup mengalahkan ekonomi Jepang pada dua tahun lalu. Dari segi penduduk dan jumlah penduduk miskin tidak jauh berbeda dengan kita, tapi kenapa Cina bisa lebih maju?" katanya.

Menurut dia, kunci kemajuan Cina itu tak lain optimisme. "Untuk menumbuhkan optimisme itu mereka selalu merayakan kemenangan saat mampu mengalahkan ekonomi Inggris, Jerman, dan dua tahun lalu mengalahkan ekonomi Jepang. Cina-Jepang itu 'musuhan' seperti Indonesia-Belanda," katanya.

Bahkan, Cina diramalkan akan mengalahkan Amerika dan tingkat perekonomiannya akan menjadi terbesar di dunia pada tahun 2016."Bagaimana dengan Indonesia, menurut saya, kita punya potensi seperti itu karena PDB Indonesia di tingkat ASEAN sudah mencapai 51 persen dan sisanya dibagi untuk 10 negara ASEAN lainnya. Jadi, ekonomi Indonesia tidak bisa diremehkan," katanya.

Namun, kata Dahlan, tingkat perdagangan Indonesia di ASEAN masih nomor 4, perdagangan dengan Selandia Baru, Australia, Jepang, dan Amerika juga masih nomor 4 dibandingkan dengan perdagangan dari negara lain.

"Kita bisa menaikkan peringkat perdagangan itu menjadi nomor 1, tentu secara bertahap dengan fokus ke peringkat ketiga lebih dulu. Caranya, kita harus melakukan sejumlah hal konkret," katanya.

Hal konkret itu, antara lain merebut potensi sarang burung ke Cina yang bernilai Rp 25 triliun dengan memenuhi syarat ke Cina, yakni jangan menggunakan bahan kimia dan mempertahankan kualitas tanpa bahan kimia.

"Untuk ekspor sawit yang kita masih dikalahkan Singapura juga akan dapat kita rebut. Caranya, saya akan menggabungkan tujuh BUMN sektor perkebunan sawit dalam dua tahun ke depan. Kalau DPR setuju, maka kita akan menjadi pemilik perkebunan sawit terbesar di dunia," katanya.

Selain itu, pihaknya akan menggenjot perekonomian dengan membangun pelabuhan besar di Tanjung Kuala dan Dumai agar kapal besar bisa masuk sehingga Indonesia bisa memasarkan minyak sawit dengan kapal besar ke Singapura secara langsung atau bahkan tanpa lewat Singapura juga bisa.

"Lebih dari itu, kita harus menularkan optimisme seperti yang dilakukan rakyat Cina karena sesungguhnya kita punya potensi, tapi kita belum memiliki optimisme. Kalau kita menyaksikan media, negara kita digambarkan seperti hancur-hancuran. Karena itu, kita harus menularkan optimisme dan menghindari pergaulan dengan mereka yang dipenuhi rasa pesimisme," katanya.

Dalam kesempatan itu, Dahlan Iskan juga banyak bercerita tentang masa kecil yang berasal dari keluarga buruh tani dan tukang kayu serabutan, lalu tertarik ke dunia jurnalistik dan akhirnya dipercaya memimpin PT PLN hingga kini menjadi Menteri BUMN.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/05/05/m3jmlm-ekonomi-ri-kalahkan-ekonomi-belanda

Bank Dunia Revisi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia diperkirakan tidak akan mencapai 6% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2013.Demikian prediksi itu diungkapkan oleh Bank Dunia.
Bank Dunia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini hanya akan mencapai 5,9% saja terhadap PDB. Proyeksi ini sekaligus merevisi perkiraan sebelumnya yang dibuat Bank Dunia, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 6,2% terhadap PDB.

Menurut kepala Ekonomi Bank Dunia, Ndiame Diop, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2013 sudah menunjukkan perlambatan sebesar 6,0% terhadap PDB.
Penyebabnya adalah prospek ekonomi yang mengalami pelemahan, menyusul menurunnya harga-harga komoditas. Penurunan harga komoditas yang lebih besar akan menurunkan pendapatan dari valuta asing (valas).

Ndiame juga bilang, penyebab turunnya outlook perekonomian Indonesia disebabkan adanya indikasi  perlambatan pertumbuhan investasi yang lebih besar dibanding perkiraan awal.
Selain itu, menurutnya, telah terjadi penurunan kepercayaan konsumen sebagai antisipasi reformasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) terlihat dari kenaikan inflasi sementara ini.

Bahkan, Bank Dunia melihat ada risiko tinggi terhadap perlambatan yang lebih besar. "Risiko ini didorong oleh pelemahan permintaan dalam negeri hyang lebih besar karena dampak inflasi dari kenaikan harga BBM bersubsidi," ujar Ndiame, Selasa (2/7) di Jakarta.

Pertumbuhan belanja investasi oleh Pemerintah diperkirakan juga akan mengalami pelambatan yang lebih tajam atau lebih lama. Pemerintah juga akan dihadapkan dengan gejolak pasar keuangan yang terjadi dan akan mempengaruhi tingkat kepercayaan dan meningkatkan biaya pendanaan.

Terkait hal tersebut, Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku masih optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi nasional di tahun ini bisa mencapai 6,3%. "Saya kira memang tidak mudah, tetapi dengan extra effort, maka pertumbuhan 6,3% bisa tercapai," ujar Chatib di Gedung Kementrian Keuangan, Jakarta.

Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar menambahkan, faktor perkembangan ekonomi global memang akan menjadi tantang besar bagi Pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, perkembangan ekonomi dunia sangat dinamis sehingga bisa saja sewaktu-waktu proyeksi dan target harus diubah mengikuti perkembangan tersebut.

Mahendra bilang, diturunkannya target proyeksi bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai sebuahu pesan agar Pemerintah untuk tetap fokus menjaga kondisi fiskalnya.

sumber : http://nasional.kontan.co.id/news/bank-dunia-revisi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-1

Ekonomi Indonesia Mendominasi di Kawasan ASEAN

Indonesia mempunyai peluang positif dalan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN yang akan dimulau akhir tahun 2015. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Raja Sapta Oktohari mengatakan, Indonesia mempunyai peluang positif dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN yang akan dimulai akhir tahun 2015.
"Indonesia, harus diakui, masih mendominasi di kawasan ASEAN," katanya saat Rakernas ke-15 Hipmi, di Pontianak, Minggu (9/6) malam. Ini semua diungkapkannya berkat dukungan jumlah penduduk, wilayah dan sumber daya alam yang paling besar di kawasan ASEAN.
"Saat ini, dengan komposisi 40 persen dari wilayah ASEAN, sudah sepatutnya Indonesia menjadi pemain utama," ujar dia. Namun dia berharapperlu ada dukungan kebijakan yang juga berpihak kepada kalangan pengusaha.
Dalam rakernas tersebut juga mengkaji dan menganalisa yang nantinya menjadi rujukan resmi organisasi karena berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. "Hasilnya akan diserahkan secara resmi ke pemerintah RI melalui wakil presiden," kata dia.
Kalbar, diungkapkannya merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Brunei Darussalam. "Serta negara tetangga lain di ASEAN," katanya.
Ia menilai, kalau Indonesia mau berhasil di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN, maka gerbangnya harus dibangun. "Kalbar menjadi gerbangnya," kata Raja Sapta Oktohari.
Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya mengaku bangga dengan dipilihnya Pontianak sebagai tuan rumah Rakernas Hipmi.
"Kalbar sebagai satu pintu dalam masyarakat ekonomi ASEAN, dan kekayaan alamnya sebagai potensi yang dapat digali serta dikembangkan," kata Christiandy Sanjaya.
Di Kalbar, lanjut dia, sudah dibangun berbagai infrastruktur untuk menunjang kesejahteraan serta menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Di antaranya dengan membuka sejumlah pintu resmi di perbatasan seperti Badau (Kabupaten Kapuas Hulu) dan Aruk (Kabupaten Sambas).

sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/06/10/160252/Ekonomi-Indonesia-Mendominasi-di-Kawasan-ASEAN

APEC dan Momentum Kejayaan Ekonomi Indonesia

Terpilihnya Indonesia sebagai Ketua Asia-Pasific Economic Forum (APEC) 2013 serta tuan rumah perhelatan yang akan diselenggarakan pada Oktober 2013 mendatang di Bali, sejatinya merupakan momentum bagi kebangkitan ekonomi Indonesia sekaligus   meningkatkan peran strategis Indonesia  bagi  perekonomian global.
Fakta sejarah menunjukkan peran strategis Indonesia sangat besar dalam  perkembangan APEC,  Indonesia berperan dalam pendirian APEC dan hadir pada konferensi tingkat menteri di Canberra, Australia, tahun 1989. Setelah pertemuan APEC di Blake Island Seattle (AS) pada 1993,  Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC 1994 yang diselenggarakan di Bogor, Jabar.
Kontribusi utama Indonesia pada awal pembentukan APEC,  ditandai dengan rumusan Bogor Declaration  dan Bogor Goals pada saat Keketuaan APEC Indonesia tahun 1994.  Indonesia juga turut mendorong dibentuknya salah satu pilar utama APEC yaitu Economic and Technical Cooperation (ECOTECH), yang dirancang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan merata demi mengurangi kesenjangan ekonomi di kawasan melalui pembangunan kapasitas individu dan institusi.
Saat ini, sebagai emerging country yang pertumbuhan ekonominya selalu positif di tengah krisis global, Indonesia menjadi barometer bagi ekonomi global, karena  dunia melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki daya tahan (resilient) terhadap krisis dengan tingkat pertumbuhan ekonomi  yang stabil.
Sebagaimana diketahui, ketika krisis hebat melanda Eropa, perekonomian Indonesia mampu tumbuh di atas 6,5 persen. Bahkan, sampai dengan tahun 2012,  pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di angka 6,5 persen. Kondisi ini bertolak belakang dengan sebagian besar negara-negara lain  yang pertumbuhan ekonominya cenderung negatif.
Evaluasi  2012  masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara sentral dalam menjaga pertumbuhan kawasan. Dengan produk domestik bruto (PDB) berdasarkan purchasing power parity (PPP) lebih dari 1 triliun dollar AS, dan meningkatnya kelas menengah, Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi di Asia Pasifik. Besaran (size) ekonomi nasional  dimaksud,  menjadikan posisi strategis Indonesia  sebagai pasar bagi produk impor bagi negara-negara yang tergabung dalam APEC, namun di sisi lain juga,  menjadi peluang bagi ekspor produk nasional dengan semakin terbukanya pasar kawasan Asia Pasific.
Sejak ikut serta dalam APEC, Indonesia mencatat perkembangan yang pesat dalam perekonomian dengan sesama anggota di Asia-Pasifik. Total perdagangan Indonesia di tahun 1989 ke seluruh ekonomi anggota APEC adalah 29,9 miliar dollar AS, sekitar 78% dari total perdagangan Indonesia ke seluruh dunia.
Di tahun 2011 ekspor Indonesia ke seluruh ekonomi anggota APEC mencapai 289,3 miliar dollar AS, sekitar 75% dari total perdagangan Indonesia ke seluruh dunia, terjadi peningkatan hampir 10 kali lipat, dari tahun 1989 ke tahun 2011, atau 22 tahun terakhir.
Investasi dari ekonomi APEC ke Indonesia pada tahun 2010 berjumlah 9,26 miliar dolar AS, dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 10,7 miliar dolar AS. Selain itu, pada tahun 2011, 10 dari 20 anggota ekonomi APEC termasuk dalam 20 investor terbesar Indonesia.
Ketika Indonesia memimpin APEC 2013, berarti Indonesia juga menjadi daya tarik  perekonomian dunia,  mengingat APEC menguasai 56 persen PDB dunia, 39,8 persen penduduk dunia, dan total PDB 2011  berkisar USD38,9 triliun. 

sumber : http://www.setkab.go.id/artikel-9228-apec-dan-momentum-kejayaan-ekonomi-indonesia.html

Bank Dunia Turunkan Prospek Ekonomi Indonesia Tahun Ini

Bank Dunia pada Selasa (2/7) menurunkan perkiraan atas pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini karena pemulihan yang lebih lambat dari yang diperkirakan terkait ekspor, prospek yang lebih lemah untuk investasi asing dan harga-harga komoditas yang lebih rendah.

Dalam pandangan ekonomi yang diterbitkan setiap kuartal, Bank Dunia juga memperkirakan naiknya tekanan-tekanan inflasi di Indonesia menyusul kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akhir Juni.

Bank Dunia sekarang memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,9 persen pada 2013, turun dari perkiraan pada Maret yaitu 6,2 persen.

Bank Indonesia sendiri bulan lalu menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 6,1 persen pada 2013 dan sekitar 6,4 persen sampai 6,8 persen tahun depan.

Inflasi saat ini diperkirakan pada 7,2 persen tahun ini, dan 6,7 persen pada 2014, menurut proyeksi Bank Dunia.

Pada Senin (1/7), Biro Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi tahunan pada Juni mencapai 5,9 persen atau lebih rendah daripada yang diperkirakan, akibat kenaikan harga BBM yang belum dirasakan.

Beberapa analis memperkirakan Bank Indonesia dapat meningkatkan tingkat bunga lagi untuk mengendalikan inflasi dan membantu rupiah yang melemah.

Bank Dunia juga memperkirakan defisit di Indonesia saat ini mencapai 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan 2,1 persen pada 2014.

sumber : http://www.voaindonesia.com/content/bank-dunia-turunkan-prospek-ekonomi-indonesia-tahun-ini/1693295.html